^^

Jumat, 07 Oktober 2011

#15harimenulisdiblog #8 #pesan


PESAN TULIP

                Berkali sudah aku aku kecewa. Saat setahun terakhir ini aku melaluinya masih tanpa dirimu. Berkali pula aku menunggu. Tapi tak sekalipun ada suaramu. Katanya kamu akan menelpon. Hanya sekedar untuk mengejutkanku. Tapi mana janjimu. Apakah kamu tidak tahu. Di sini aku masih menunggu. Apa kau lupa janjimu. Apa kau lupa pesanku.

                Kulihat dari jendela ruang tempat aku bekerja. Bulan tersenyum kelu melihat wajahku. Wajahku memang tak seceria dulu. Saat setahun ini aku melaluinya masih tanpa dirimu. Katanya kamu akan berkirim surat. Sekedar untuk melepas rindu. Jangankan surat, pesan pendekpun tak pernah sampai padaku. Hey, apakah kamu tidak merasakanku. Aku di sini masih menunggu. Apa kau memang telah lupa janjimu, lupa pesanku.

                Angin menari riang seolah mengejekku sepanjang jalan. Berjalan seorang diri di paruh malam benar-benar tak membuatku nyaman. Tetapi inilah yang harus kulakukan. Aku harus berjalan. Hemat pula. Kantor dan rumahku tak terlalu jauh jaraknya. Aku tak boleh manja.  Begitupun, ini kan karena kamu. Sehingga aku berada di kantor itu. Aku menerima pekerjaan ini karena kamu telah berjanji. Suatu hari kamu akan meneleponku jika sudah malam. Itu janjimu beberapa tahun silam. Atau, kamu memang telah lupa janjimu, lupa pesanku.

                Atau, aku harus terima kenyataan. Bahwa dirimu telah jauh berada di seberang lautan. Aku bukanlah gadis bodoh yang bisa di perdaya cinta. Sehingga aku harus nekat menyusulmu ke sana. Tak mau aku. Untuk apa juga? Di sini masih banyak pria tampan sepertimu. Masih banyak yang berkata cinta kepadaku. Tapi bodohnya aku menolak semuanya. Ah, karena kamu. Apakah kamu masih tak tahu. Di sini aku tetap menunggu. Atau benar kau telah lupa janjimu, lupa pesanku.

                Hari-hari terus berlalu. Tidak peduli sedikitpun tentang diriku. Ternyata, di sini aku masih menunggu. Menebak setiap dering telpon bahwa itu darimu. Dan lagi-lagi aku harus kecewa. Karena tak sekalipun aku temui suaramu di sana.

                Hingga…

                “Vi, ada telpon dari rumahmu. Sepertinya penting.”

                Aku berlari sekencang-kencangku. Tak peduli lagi berpuluh mata yang memandangku. Apa mereka juga peduli tentang perasaanku. Saat setahun terakhir ini aku melaluinya tanpa dirimu.

                Langkahku terhenti di muka pintu. Tak percaya aku melihatnya. Aku coba menahan tapi tak mampu. Air mata ini terlalu deras melaju.

                Kupeluk erat lelaki itu, lelaki yang setahun ini tak menelponku. Lelaki yang datang malam-malam membawakan oleh-oleh bunga Tulip pesananku. Tapi sepertinya, sekarang aku tak menginginkan lagi Tulip itu. Yang aku mau lebih dari sekedar bunga. Aku mau dia.

                “Maafkan aku tak bisa telpon ya. Tapi aku tak lupa janjiku. Aku tidak lupa pesanmu. Ini pesanan kamu, Sayang.”

                “Aku tak mau Tulip, aku mau kamu.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar