^^

Senin, 03 Oktober 2011

#15harimenulisdiblog #5 #hilang


AUDISI KOMEDI CILIK

                “Ingat, jaga sikap. Manusia lebih mulia derajatnya di mata Tuhan. Nanti kalau adek berulah, Tuhan bisa marah.”

                Nasehat mama terus mengiang di telingaku. Apa sih hebatnya manusia? Mereka tak bisa terbang, mereka tak bisa menghilang, mereka tak berumur panjang, jadi apa hebatnya manusia?

                Sebenarnya ini bukan kali pertama aku ke dunia manusia. Dulu aku pernah kemari bersama papa. Waktu umurku masih belum seabad. Namun sekarang rasanya berbeda. Mengapa? Karena sekarang aku sudah boleh kemari sendiri. Jadi aku merasa lebih bebas saja. Tak ada lagi yang melarangku, melakukan ini itu. Senangnya…..

                Aku turun ke dunia manusia merupa sebagai anak kecil umur 8 tahun. Saran mama. Katanya, anak kecil lebih cepat di terima di kalangan manusia. Mungkin mereka menganggapnya tidak berbahaya. Hmm, tidak berbahaya jika itu anak manusia. Kalau aku bisa lain ceritanya. Tapi aku selalu ingat pesan mama untuk tetap jaga sikap, jaga kelakuan karena manusia lebih mulia derajatnya di mata Tuhan. Baiklah…..

                Matahari menyembur panas, bagi manusia. Tapi buatku itu bukan masalah. Aku bisa kirim kode agar awan-awan memayungiku. Senangnya…..

                “ihh…lucu banget”
                “iya, unyuuuu….”
                Aku  jumpa gadis-gadis manusia yang langsung saja lancang menjembreng pipiku. Sakit tahu. Jika saja tidak ingat nasehat mama, sudah aku tendang keduanya.

                Eh, apa itu? Ada yang ramai di pojok situ. Lihat ah, siapa tahu ada hal yang menarik. Perlahan aku eja huruf-huruf manusia yang tertulis besar-besar di sana. A..U..DISI..KO..MEDI..CIL..IK. AUDISI KOMEDI CILIK. Ikut ah, eh tapi aku kan tidak bisa melucu. Eh tapi kan wajahku lucu kata gadis manusia tadi. Baiklah. Aku memberanikan diri.

                “Adek, orang tuanya mana”

                Aku menunjuk ke arah belakang. Aku berbohong. Kakak manusia yang mendaftar calon peserta itu tertipu akan muslihatku. Setelah ditanya ini dan itu .Akupun lolos jadi peserta nomor dua puluh satu. Menipu tidak masalah bukan? Asal aku masih menjaga sikap, karena aku selalu ingat pesan mama, manusia lebih mulia derajatnya di mata Tuhan oleh karenanya aku harus jaga kelakuan.

                Lama menunggu, akhirnya tibalah giliranku. Aku maju ke depan dan siap memulai lawakan. Tapi, aduhh…aku mau melucu apa coba? Aku kan tidak bisa melakukannya. Aku kan memang bukan anak-anak manusia seperti  peserta sebelumnya, yang bisa cekatan bikin lawakan. Aku coba tersenyum ke penonton. Manusia-manusia itu tetap tak bereaksi, tetap terdiam mirip pohon nunggu di siram.

                Oh, iya di dunia manusia kan ada seni sulap. Yang mereka puja dan mereka banggakan. Padahal di duniaku itukan hanya permainan “Hilang, Sembunyi dan Kembali.” Tapi pernah aku dengar cerita, kalau mereka juga pernah tertawa jika melihatnya. Pakai sulap aja kali ya. Tapi apa tidak melenceng dari tema? Mereka kan mencari komedian, bukan seorang ahli sulapan. Ah biarlah.

                Aku mulai beraksi. Aku ambil topi peserta yang duduk di baris kiri. Abrakadabra, hilang. Aku bertepuk tangan. Tak ada yang menyambung tepuk tanganku.

                “Ah ini mah tidak lucu, ini sulap.” Manusia yang duduk di deret belakang yang berdiri mulai protes. Suaranya berlanjut ucapkan aku ini tak layak ikut kontes. Salah alamat katanya. Padahal aku kan baru memulai. Karena dia telah berdiri, maka aku minta dia datang kemari.  Lalu aku mulai bertanya.

                “Bapak maunya apa?” tanyaku sok polos ala anak manusia.

              “Ya yang lucu. Ini kan ajang mencari bakat komedian. Bukan mencari ahli sulapan.” Jawab manusia itu.

                “Bapak maunya yang lucu. Kalau itu lucu tidak?” aku menunjuk ke tubuh bagian bawahnya yang tinggal pakai kolor.

                Dia berusaha menutup bagian pribadinya. Dan penontonpun mulai tertawa. Asyik, sulap lawakanku sudah mulai mengena. Aku tingggal melanjutkannya.

                “Ayo, siapa lagi yang kolornya mau menghilang.” Aku bertanya setengah menggoda.

                Kali ini penonton diam.

                “Jika tidak ada yang mau, aku pilih acak ya..”

        Aku mulai menjulurkan kedua tanganku sambil pura-pura merapal mantra….hemmm hong wilaheng…..Menghilang!!

                Kemeja pembawa acarapun hilang. Penonton kembali tertawa. Saat aku berhasil menghilangkan rambut seorang penonton, kembali tawapun pecah. Saat aku berhasil membuat hilang kursi yang di duduki  para juri, dan membuat mereka terjengkang ke belakang, tawa penonton semakin membuncah. Namun, ada satu yang menurutku tertawanya paling gila. Sepertinya ini cocok jika jadi korban berikutnya.

                Menghilang!!!....

                Tawa penonton semakin menjadi. Saat si manusia tertawa paling gila kehilangan gigi. Dan lucunya dia masih ikut tertawa. Belum menyadari jika giginya hilang semua.

                Wkakakaka….tak kuasa aku menahan tawa. Bumi mulai berguncang. Panggung ikut bergoyang. Penonton mulai panik. Mereka tak lagi pikir panjang. Mereka lari tunggang langgang. Tawakupun terhenti. Aku terlambat menyadari jika aku sedang di bumi. Di duniaku, tawaku mungkin terdengar biasa, tapi di sini bisa menjadi bencana. Aku langsung terduduk ingat pesan mama. Perlahan, aku mulai menghilang.

                Tuhan maafkan aku, bukan maksudku seperti itu.Sungguh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar