^^

Minggu, 10 Maret 2013

#BermainApi #03


MENGANTAR MAYA

                Perih terasa setiap kuulang adegan ini. Babak hidupku yang  selalu mengulang. Rutinitas menyakitkan yang selalu terampil mengiris hati ini tipis-tipis. Pedih.
                Kulihat dirinya perlahan menghias wajahnya dengan rona-rona. Menyapukan tipis kuas bulat menggembung itu ke muka pipinya. Lantas melaburkan gincu merah kepada bibirnya. Sebenarnya kamu tak perlu menambahkan ini itu. Kamu sudah cantik apa adanya di dalam mataku.
                Aku masih duduk terdiam memandang wajahnya yang perlahan berubah. Tertutup hias dunia yang kurasa malah menutup kecantikan abadinya. Dia masih saja mematut diri di depan cermin berbingkai kayu jati berwarna coklat itu. Seperti tak menghiraukankku.
                Entah berapa lama lagi aku harus menunggu. Menunggu dirinya untuk menjadi milikku. Menunggu waktu bersuci memeluk diriku. Mengembalikanku ke jalan yang benar, bersamanya.
                “Pram!”
                Aku tergagap dengan reflek kaki menginjak pedal rem dalam-dalam. Di depanku sudah berdiri sebuah gardu listrik dengan sombongnya. Jantungku berdegup sangat kencang. Lalu, kurasakan sebuah benda menghantam badanku.
                “Kamu mau bunuh diri ya?!” bentaknya seraya menarik tasnya dari badanku.
                “Maaf May.”
                “Maaf! Maaf!, kalau sampai nabrak kita bisa mati tahu!” hardiknya.
                “Maaf tuan putri, aku sedang kurang enak badan ini.”
                “Kalau nyetir jangan melamun dong. Lagian, kamu ngelamunin apa sih?”
                Aku menggeleng. Dia masih tampak kesal.  
                Kembali kulajukan mobil ini ke tempat tujuan. Kepalaku serasa pecah. Mengapa aku kembali melakukan ini.
                Maya segera turun begitu mobil ini berhenti.
                “Ingat ya Pram, hubungan kita hanya sebatas artis dan manager. Tidak lebih. Jangan hanya karena aku mau bercinta denganmu lalu otomatis aku menjadi pacar kamu. Lagi pula kamu kan yang membawaku ke tempat seperti ini. Terima sajalah kalau kamu itu masih seorang mucikari. Jadi tidak usah sok suci.”
                Kulihat mata gadis itu berkaca-kaca. Ada perih yang tampak jelas tergambar di matanya. Perih yang aku sebabkan. Luka yang aku buat ketika pertama kali aku memperkenalkan duniaku kepadanya.
                Dari jauh, kulihat Maya telah duduk di depan pelanggannya. Seorang pria paruh baya yang menjadi langganan Maya. Aku yang memperkenalkan dia kepadanya. Perkenalan yang membuatku menyesal hingga kini.
                Tuhan, bisakah aku berhenti?

sketch belong to : leadhead60

Tidak ada komentar:

Posting Komentar