^^

Senin, 19 November 2012

TULIS NUSANTARA


RAGAM CERITA di Workshop TULIS NUSANTARA (SURABAYA)

Bangga di Acara Workshop #TulisNusantara
Sebagai seorang penghobi ilmu penulisan, saya tidak akan pernah melewatkan Workshop Menulis (apalagi gratis) di Surabaya. Jika waktunya pas dan tidak bentrok dengan jadwal saya (saya juga orang yang sibuk, itu perlu kamu tahu.. hahahaha *dikeplak) maka saya akan daftar dan datang. Yup, daftar dan datang, jika sekiranya tidak bisa datang, saya tidak akan daftar :))
Bangga bersama Mas Iwan Setiawan
Nah, seperti pada hari Minggu kemarin, 18 November 2012  jam 9 pagi saya datang ke ke @MatchboxToo Cafe and Resto yang berada di jalan Jawa 33 Surabaya untuk ikut Workshop #TulisNusantara yang di gelar atas kerjasama dari Nulisbuku.com, Plotpoint serta Ditjen EKMDI Kemenparekraft Indonesia (Wow..ini berarti resmi lho, di restui negara gitu). Acaranya seru abiesss. Sudah gratis, pemateri adalah editor kondang nya Plotpoint yaitu Arief Ash Shiddiq @alienstartrek . Yang belum apa-apa udah “keras” kepada kita-kita peserta yang masih ijo di dunia tulis menulis ini. Juara dah. Plus... ada mas Iwan “Ibuk” Setiawan @Iwan9S10A yang datang sebagai pembicara. Mas Iwan berbagi pengalaman hidupnya yang f*ck d*mn good. A wonderfull life. Sialan!! Aku jadi iri. Sekaligus termotivasi tentunya. Thank you masku (sok akrab) :p
Ikut yang ini ya ^^
Selain mendapat ilmu cuma-cuma dari pemateri dan pembicara, kita juga dapat info bahwa ada KOMPETISI MENULIS NUSANTARA yang hadiahnya ... D*mn!! SERATUS DUA BELAS SETENGAH JUTA RUPIAH. Yes! *ambilnapas* Seratus dua belas setengah juta rupiah. (uang semua tuh) mihihihi... yang seketika membuat kita langsung terpacu buat ikutan lomba. (Tapi ingat yes, saingannya berat. Se indonesia. Apalagi saya ikut. Para selebtweet ikut. Para senior writer ikut juga. Hahahahahahahhaha... Nah Lo)
Pokoknya buat teman-teman yang hobi nulis, suka nulis, pengen jadi penulis,  semuanya saja yuk ikutan KOMPETISI MENULIS NUSANTARA ini. Info lengkap klik di sini >> #TulisNusantara
         Terima kasih buat semua yang ada di Workshop #TulisNusantara kemarin, pemateri dari @_PlotPoint, Mas Iwan sebagai pembicara , panitia @nulisbuku, teman-teman yang datang, semuanya... obrigado, eu amo todos voces. Ate a proxima.

Jumat, 16 November 2012

Cerita Buku 50 RIBU


Buku 50 Ribu 

Akhirnya. Ya, akhirnya apa yg saya bayangkan setahun lalu terwujud minggu ini. Setelah setahun lalu saya dan kelima teman alumnus kelas kreatif Surabaya; Nabil @nabilabudayana , Kyra @riezkylibra80 , Risty @Riersy , Ayunin @AyuninQ dan Indah @indihana_ berhasil dengan Buku kolaborasi #91011 , sekarang kami kembali hadir dengan #Buku50Ribu 
#Buku50Ribu adalah kumpulan cerpen yang ditulis berurutan di setiap cerita oleh tiap-tiap penulis hingga rampung menjadi satu karya utuh. Pada awal permainan, saya sedikit meragukan apakah ini akan berhasil, menyatukan enam kepala dalam satu karya. Blend. Bercampur. Dari masing-masing genre kami yang berbeda. Tapi pada perjalanannya ternyata sungguh mengasyikkan. Hingga, tanpa kami sangka, hasilnya pun cukup mengejutkan. Jujur saya shock. Ekspektasi awal cerita saya yang bagus dirusak di tengah-tengah, dihancurkan pada akhiran dan harus saya perbaiki untuk selesai. Amazing!
#Buku50Ribu sangat spesial karena di tengah kesibukan dari masing-masing kami buku ini bisa selesai. Ya, tanggal 10 bulan 11 tahun 2012 (cantik ya tanggal nya) sekaligus urutan dari 9-10-11, #Buku50Ribu ini kami launching. Dengan sangat sederhana, namun amat berkesan.
Oleh karenanya terima kasih yang tak terhingga untuk semua yang membantu #Buku50Ribu lahir dengan selamat. Terima kasih untuk kakak-kakak endorser @Oddie__  Frente, Valiant Budi @vabyo, dan Novita @LVCBV Poerwanto, terimakasih selalu menyemangati. Terimakasih untuk Nulis Buku Club @nulisbuku dan Nulis Buku Club Surabaya @NBCSurabaya, MamaNa @ninaniena, Mbak Lala @lalapurwono, terima kasih untuk membuka jalan. Terimakasih mbak Ollie @salsabeela, sepatu boot nya inspirasi saya. Terimakasih untuk Grancity Surabaya @GrandCitySBY yang sudah ngijinin saya pake Foodloft nya, Mbak Nancy dan Mas Rendra @mdgila Bachtiar, thank you so much. Dan, last but not least, untuk semua yang datang di launching #Buku50Ribu kemarin serta yang telah mengapresiasi buku saya, saya ucap banyak-banyak terima kasih.
Mungkin itu secuil cerita saya tentang buku baruku. Dan kini terimalah …. #Buku50Ribu untukmu. Eu amo voce, realmente amos (^^,)>


Thanks yang sudah hadir


Buku 50 Ribu





Jumat, 26 Oktober 2012

#15HariNgeblogFFDadakan #D10


CUKUP DOA SECUKUPNYA

Aku terdiam. Mendengar ceritanya kata perkata. Meski aku tidak setuju dengan apa yang dia ucapkan namun apa boleh buat. Aku hanya seorang anak yang harus mematuhi ibunya. Emm… ibu tiri tepatnya. Meski sebenarnya dia masih sedarah denganku. Dia kakak ibuku.
Tetapi kali ini permintaannya keterlaluan. Mana bisa aku membunuh suamiku sendiri. Dasar PKI. Iblis. Hanya karena iming-iming cukong busuk makelar tanah itu aku harus membunuh suamiku. Begitu. Perempuan gila. 
Gusti jagat dewa batara, apa yang harus aku lakukan. Bagaimana aku bisa memilih jika pilihannya adalah suami dan anakku. Aku tak mungkin mampu hidup tanpa keduanya.
“Bagaimana, Nduk? Kamu bisa kan melakukan ini. Demi keluarga. Demi trah keluarga kita. Atau, terpaksa aku membunuh anakmu sebagai gantinya.”
Aku masih terdiam. Suara gagak yang bertengger di gerbang pura merongok-rongok menambah pilu hatiku. Adakah pilihan lain, Gusti. Mengapa aku terlahir dalam keluarga seperti ini. Lebih baik aku mati. Atau… dia yang mati.
Aku kembali melihat belati perak yang sudah kugenggam sedari tadi. Kulihat ibuku kembali menebar kemenyan di atas pedupaan membuat aroma wangi menyeruak bergolak. Gusti, jika benar aku membunuhnya, apakah aku menjadi anak durhaka. Tetapi ini demi keluargaku bukan. Aku harus melindungi suami dan anak-anakku.
“Apa yang kamu pikirkan lagi? Apakah kamu tidak mencintai keluargamu?!”
“Tapi, Bu. Apakah tidak bisa diganti dengan orang lain?”
“Tidak bisa!”
Baiklah jika begitu, aku memang harus membunuhmu. Maaf ibu.
Akkgg…...
“Anak bodoh! Bodoh kamu, Andini! Bodoh kamu!!”
Dia meludahiku entah berapa kali. Aku menutup mata.
Kejadiannya begitu cepat. Semoga anak-anakku nanti selamat. Suamiku harap kamu berhati-hati. Sekarang kamu sendiri karena aku harus pergi.
Kurasakan belati itu ditarik dari jantungku. Perempuan laknat itu kembali meludahiku. Aku sudah tidak peduli dengan diriku. Aku hanya mengkhawatirkan keluargaku. Nak, besok jangan pernah menangisi mayat atapun kuburanku. Cukup beri ibu doa secukupnya. Mungkin besok ibu akan berbahagia dengan Sang Kuasa.
Samar kulihat ibuku berlalu meninggalkanku. Perempuan biadab, suatu hari belati itu pula yang akan merenggut nyawamu. Ucapku lirih, sesaat sebelum napas benar-benar terhenti. Kudengar gagag-gagak kembali merongok. Semakin keras.

Painting belong to Margaret Bowland

Kamis, 25 Oktober 2012

#15HariNgeblogFFDadakan #D9


DAHLIA

“Kami sudah mau tutup, Non.”

Sapa penjaga toko bunga ini ketika aku baru akan memilih bunga-bunga dagangannya. Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya. Sepertinya dia tidak sadar bahwa maut telah mengintainya. Dia belum tahu siapa aku sebenarnya.
“Mana temanmu yang satu lagi?”
“Oh, dia kakakku. Pemilik toko bunga ini. Dia sudah pulang duluan. Ada apa ya, Non?”
“Oh tidak ada apa-apa kok.”
“Kita sekarang tutup lebih awal. Sejak G tiga puluh S kemarin, toko kami menjadi sepi. Kami maklum sih, banyak orang-orang yang takut keluar rumah. Apalagi banyak jemputan-jemputan misterius itu. Banyak yang dieksekusi dengan tuduhan terlibat gerakan palu arit itu.”
Urainya panjang lebar. Aku pura-pura saja menyimaknya.
Ndak laki-laki, ndak perempuan pokoknya yang di jemput pasti mati. Atau malah ada yang dibunuh di tempat. Di rumah mereka sendiri. Ngeri banget. Negara macam apa ini. Pemimpinnya kok malah menyebar teror.”
Lanjutnya kemudian. Aku masih memasang senyum dan masih berpura-pura untuk tertarik dengan ceritanya. Aku terus mengamatinya yang sedang berkemas-kemas sembari melihat kondisi luar toko untuk memastikan bahwa tidak akan ada seorangpun yang melihat ketika aku mengeksekusinya.
Sebetulnya jika dilihat lama-lama, pemuda ini tampak begitu manis. Lebih tampan dari sang kakak. Rahangnya yang keras membuat kelelakiannya menjadi jauh mempesona. Namun sayang sekali napasnya harus berhenti pada malam ini. Aku hanya melaksanakan tugas. Apa boleh buat.
Kulihat-lihat lagi belati-belatiku yang mengkilat-kilat mengintip dari dalam tas tanganku. Sabar ya sayang.
Dheng…
Jam lemari antik yang berdiri tegak di sudut toko ini berdentang sembilan kali. Kondisi benar-benar sepi. Mungkin sekarang adalah saat yang tepat untuk membuatnya mati. Kugenggam kuat-kuat belatiku. Aku mengambil posisi yang tepat untuk membunuhnya. Ini tidak main-main. Aku harus melaksanakannya dengan rapi. Satu tikaman dan dia harus mati.
Dan…
Tiba-tiba…
Kudengar derap kaki bergerak cepat mendekat. Aku langsung beringsut refleks sembunyi di balik vas-vas kosong ini. Aku dengar suara pemuda itu meronta.
“Benar ‘kan, Ndan. Ini Dahlia lima belas?”
“Benar, ciri-cirinya juga sama.”
“Kita bawa je markas atau…”
“Sudah lakukan saja di sini.”
Crass…
Ada sesuatu menggelinding yang tertangkap oleh mataku. Lalu kulihat seseorang tinggi tegap itu memungutnya. Benda itu menetes-neteskan darah. Aku hanya terdiam dan mengambil napas dalam-dalam. Huft… aku terlambat. Ternyata dia juga menjadi target jemputan rupanya. Tahu begitu aku akan menyudahinya kemarin lusa.
Gerombolan itu telah pergi. Meninggalkan toko bunga ini bersama sepi. Aku melangkah keluar. Jalan Dahlia ini telah benar-benar jauh dari bingar. Apa boleh buat.

Drawing belong to Ten Paces And Draw

Rabu, 24 Oktober 2012

#15HariNgeblogFFDadakan #D8


MEMILIH PUTIH

Entah sejak kapan aku suka dengan semua yang berwarna putih. Salah. Aku tidak lagi suka. Aku lebih dari itu. Aku terobsesi. Aku tergila-gila dengan semua yang berwarna putih. Bahkan, aku rela membayar mahal dokter cabul yang berpraktek di ujung gang agar gigiku putih mengkilat. Lalu aku tak segan untuk setiap hari cerewet kepada pembantu-pembantuku agar semua benda-benda putihku tetaplah bersih, terbebas dari debu.
Lain diriku lain pula kakak perempuanku. Kakak semata wayangku ini menyukai warna ungu. Warna yang menurutku sendu, kuyu, tanpa semangat. Hanya muram dan kesedihan yang menaunginya. Aku tidak suka. Sama tidak sukaku kepada kakakku. Apalagi nenekku lebih sayang kepada kakakku. Namun apa boleh buat. Tradisi masih mengikat agar yang muda lebih hormat kepada yang lebih tua. Harus nurut, patuh dan tidak melawan. Sebagai anak yang sopan, semua aku laksanakan.
Suatu hari, kami berdua di panggil nenek ke ruang tengah. Adakah gerangan serius yang membuat nenek memanggil kami di tengah butanya pagi. Mata kami mengerjap-kerjap melawan kantuk. Gigi bergemerutuk menahan dingin pagi. Badanpun menggigil.
Nenek sudah duduk manis di kursi malasnya menunggu datangnya kami berdua. Kami duduk di depan nenek dengan masih memaksa mata untuk membuka. Sesekali dua kali aku menguap. Nenek cerita panjang lebar dan aku tidak bisa begitu serius mendengar. Aku masih ngantuk.
Hingga, nenek mengeluarkan sebuah kotak kayu besar dan membukanya. Mataku langsung membelalak melihat kilatan benda putih yang langsung memikat hatiku. Tiga buah belati perak ini seperti tersenyum kepadaku. Aku langsung jatuh cinta. Tak tahan aku ingin menjamahnya.
“Tunggu sebentar, hati-hati dengan benda ini. Benda-benda inilah yang bisa membunuh kalian.” Ucap nenekku.
“Maksud nenek?” Kakakku antusias bertanya.
“Tiga belati Brutus dan sebuah keris Kencana Wungu ini jangan sampai jatuh ke tangan orang lain. Kalian putri-putri Madangkara yang tercipta abadi akan mati jika tergores benda-benda sakti ini.” Urai nenek panjang lebar.
Lalu meminta kami untuk memilih. Jelas aku memilih belati-belati itu. Warna putih peraknya yang mengkilat langsung menawan hatiku. Kakakpun suka dengan pusaka kerisnya. Bilah keris bertahta batu-batu kecubung ungu itu begitu memukau matanya.
“Nenek, boleh aku bertanya? Darimana asal belati-belati ini?”
“Kamu tidak perlu tahu. Yang pasti, jangan sampai terluka oleh benda-benda pusaka itu. Karena hanya benda-benda inilah yang bisa melukai kita, keturunan Madangkara.”
Kami berdua manggut-manggut.
“Kenapa tidak kita musnahkan saja benda-benda ini, Nek?” kata kakakku.
“Susah, untuk memusnahkan kesaktiannya benda-benda ini minta tumbal. Darah dan nyawa lelaki Pengging.”
“Ya kita cari, Nek.” Ucapku.
“Tidak segampang itu. Apalagi benda-benda ini akan bertambah sakti jika berhasil membunuh trah kita. Akan semakin sulit untuk di musnahkan. Namun yang pasti, selain mengancam nyawa kita, benda-benda ini juga sangat berguna. Karena pusaka-pusaka ini membuat pemiliknya bertambah kuat dan hebat.”
“Begitu ya, Nek.”
Aku berdiri dan bermain-main dengan belati perak ini. Aku mengayun-ayunkannya. Dan,...
Jleb!
Belati itu menancap tepat di jantung nenekku. Nenek mati seketika tanpa berucap sepatah katapun. Aku tersenyum. Kakakku diam terkagetkan.
Kini, kekuatan nenek telah di serap belati ini. Dan belati ini telah menjadi milikku. Aku pasti bertambah sakti sekarang.

Painting belong to Whidbey Island Sketchers

Selasa, 23 Oktober 2012

#15HariNgeblogFFDadakan #D7


TATAP MATA EKSEKUTIF MUDA

Bahagia itu sederhana. Bagiku, menyelesaikan pekerjaan dengan baik lalu pulang tanpa ada pekerjaan yang tertinggal, kemudian suasana taman kota yang tak begitu ramai dengan segelas teh panas kedai kopi depan kantor yang ada di genggamanku saja sudah cukup membuatku bahagia.
Dan, ketika kudapati seorang pria tampan, tinggi tegap yang seminggu terakhir ini selalu terlihat ada di taman tempatku biasa melepas lelah seusai ngantor, bahagia itu bertambah rasanya. Entah apa yang aku rasakan. Aku juga tak begitu mengerti Apa yang sedang terjadi padaku. Aku tak tahu pasti.
Dan, ketika dua hari ini tak lagi kudapati pria itu duduk di kursi taman tempat ia biasa berada, hatiku mulai resah. Aku gelisah melihat ke kanan ke kiri. Tapi tetap tidak aku dapati sosok si pria tinggi tegap itu. Duh.
Dan, ini sudah hampir seminggu aku tak melihat pria itu. Kenapa hatiku menjadi gusar. Aku yakin sekali pria itulah orangnya. Kemana dia.
“Hey!”
Seseorang menepuk punggungku dari belakang.
“Masih menunggunya ya. Tidak usah menunggunya lagi. Dia sudah mati.”
“Maksud mbak?”
“Iya dia sudah mati. Aku membunuhnya. Lagipula bukan dia orang yang kita cari.”
“Masa sih? Padahal aku yakin sekali dialah orangnya. Sorot matanya yang seperti elang itu yang membuatku yakin.”
“Tapi kenyataannya bukan. Belati ini tetap utuh saat darahnya menyatu di badan belati sialan ini.”
“Susah juga ternyata ya mbak. Mencari orang keturunan Mas Karebet.”
“Betul dik, dan kita harus cepat menemukannya. Sebelum waktunya habis. Belati ini harus kita musnahkan supaya tidak ada lagi yang bisa melukai atau membunuh kita.”
“Iya mbak. Lalu kemana lagi kita harus mencari pria keturunan Karebet itu? Instingmu masih berkata dia ada di sini?”
“Ya. Itu ada pria tampan satu lagi. Siapa tahu eksekutif muda itu yang kita cari.”
“Baiklah.”
Aku mulai membaca mantra. 

Painting belomg to mikisportraits

Senin, 22 Oktober 2012

#15HariNgeblogFFDadakan #D6

SEKARANG ATAU 19 TAHUN LAGI
Kota tua ini masih tetap sama untukku. Begitu tenang dan mendamaikan. Aku tak peduli lagi dengan apa yang menjadi kewajibanku. Aku sudah lelah sebenarnya. Selalu saja harus mematuhi perintahnya. Kodrat yang harus aku lakukan sepanjang hidupku. Yang entah kapan akan berhenti.
Kulihat dari jauh, tampak pemuda itu telah duduk manis di kursi taman tempat kami terbiasa bertemu di sini. Ia juga masih sama bagiku. Begitu tenang dan mendamaikan.
“Hai, apa kabar.” Tanyanya malu-malu.
“Baik.” Aku menjawab singkat.
Dasar anak manusia, tampak malu hanya pada awalnya. Namun setelahnya begitu terlihat bersemangat. Namun, aku padamu begitu memuja. Entah apakah ini yang disebut cinta. Aku begitu hanyut kepadamu. Suara merdumu menggetarkan hatiku. Tak pernah aku merasakan sebelumnya. Apakah benar ini yang disebut cinta.
Dingin malam kota tua ini seolah merestui pendar-pendar sejuk hawa cinta yang keluar. Kamu merapatkan tubuhmu kepadaku. Aku tak bergerak. Pun ketika bibirmu menyentuh bibirku. Aku tak bergerak. Entah apa yang terjadi. Aku merasakan nikmat begitu hebat.
Penguasa langit, begitu sempurnakah Kamu menciptakan seorang manusia. Mengapa ia tercipta begini hebatnya. Sanggup memberiku gambaran arti sebuah cinta.
Aku bertanya kepada langit, namun suara itu yang menjawab.
Aku katakan tidak. Tidak. Tidak akan.
Malam begitu cepat merayap. Pemuda ini memintaku untuk pulang ke rumah. Tak baik katanya, seorang perawan malam-malam masih kelayapan. Oh, begitu sopannya dia. Membuatku semakin jatuh cinta. Dia pamit dan pergi setelah berjanji akan bertemu lagi. Di sini. Di kursi taman kota tua ini.
“Rara, kenapa kamu tidak membunuhnya sekarang?”
Suara itu kembali mengiang. Aku tidak bisa, jawabku.
“Apakah kamu ingin menunggu sembilan belas tahun lagi, Purnama Karebet ini tidak terjadi setiap tahun. Dasar anak bodoh, kejar dan bunuh dia.”
Aku tidak menjawabnya. Aku terus bernyanyi. Mana mungkin aku bisa membunuh orang yang aku cintai.
“Rara, hanya dia keturunan Pengging yang bisa kita temukan.”
Suara itu kembali terdengar. Aku tetap tidak peduli. Lagipula, harus ada alasan untuk aku bisa membunuhnya. Sementara dia adalah pemuda berbudi pekerti yang terpuji. Bagaimana bisa aku melakukannya. Aku kembali memasukkan belati tuaku ke sarungnya. Lalu berlalu bersama hembus dingan angin kota tua. Berharap bertemu dia sekali lagi. Di sini. Nanti.
 Painting belong to Richard Sheppard