^^

Kamis, 28 November 2013

#JATUHCINTA *01*

MENANGGUNG RINDU

Hei, kamu masih ingat bukan. Bahwa aku telah mengenalmu sejak setahun yang lalu. Ah, berbunga-bunga hatiku saat itu. Saat aku pertama jumpa denganmu. Tak mungkin aku bisa lupa. Bahkan, aku bisa mengingat setiap detilnya. Maafkan jika waktu itu aku terkesan ngebet. Terkesan murahan. Namun ini cintaku, cinta yang harus aku perjuangkan. Berjuang mendapatkanmu meski terkesan buru-buru. Habisnya, kamu terlalu diam untuk ukuran seorang jantan.

Lalu, kamu ingat bukan saat kita berdua berjalan membelah hujan. Berdua ikut mengalir berkawan banjir, beratap petir. Tak ada takut sedikitpun di hatiku kala itu. Karena ada kamu di sampingku. Memeluk, melindungiku. Tak kurasakan dinginnya angin malam yang menghujam kulit tubuhku, karena ada kamu di sebelahku, membagi hangat cintamu kepadaku.

Lalu, kamu ingat juga kan, saat kita nakal bersama. Menutup pintu kamar dan hanya kita berdua di sana. Kamu mulai nakal mencumbuku. Ajaibnya, aku menyambut cumbuanmu. Ya, karena aku cinta kamu. Bukan hanya sekedar nafsu. Hingga, huft…. Teman karibku mengacaukan semuanya. Dia teriakkan namaku sekeras-kerasnya. Hingga kita berdua kaget sejadinya. Dan, saat dia datang menghampiri, kamu sembunyi di dalam lemari. Sempit. Rasain! Kamu nakal, sih. Aku terpingkal saat itu. Melihat dirimu yang terlihat tersiksa begitu. Maafkan aku.

Dan, yang paling mengingatkanku adalah ketika aku di bekap demam berkepanjangan. Kamu bingung tidak karuan. Lucu melihat mimik panikmu kala itu. Gemes, ingin aku menggigit bibirmu. Dari ujung sana kamu bertanya, Adik bagaimana? Demamnya masih ada ya? Pusing tidak? Sudah makan? Sudah di minum obatnya? Ah, betapa bahagianya diriku. Memiliki kekasih hati yang selalu peduli sepertimu. Aku cinta kamu.

Kemudian, hari-hari pun berlalu. Semua terjadi begitu indahnya. Tak ada cela di antara kita. Semua berjalan manis. Awalnya aku curigai itu. Mengapa kamu terlalu baik padaku. Mengapa kamu selalu memanjakanku. Hingga pernah aku cemburu pada semua temanku. Di saat mereka cerita, tentang pertengkaran dengan pasangannya. Ada yang mencakar, ada yang mencaci, ada yang minggat, ada-ada saja. Aku ingin mencoba. Aku mau merasakannya. Bertengkar denganmu. Sekali saja maksudku. Tapi, tidak usahlah. Memang mungkin cerita cinta kita tercipta begini. Begitu indah penuh harmoni. Tak perlu caci atau maki. Aku ingin waktu berhenti di sini dan tak berputar lagi. Aku mau begitu. Karena aku bahagia bersamamu.

Hingga, benar hari ini genap tiga ratus enam puluh lima hari aku menjadi kekasihmu. Kamu katanya datang malam ini. Penerbangan terakhir. Tak sabar rasanya untuk segera meloncat ke pelukmu. Melepas rindu yang telah meraja di ubun-ubunku. Memelukmu seerat-eratnya. Tak akan lagi aku melepaskannya. Aku kapok kamu tinggal-tinggal. Ternyata jika kita merindu, waktu berjalan begitu lambat. Aku tidak kuat. Selalu memikirkanmu dan tak bisa menjumpai ragamu di sisiku adalah phobia yang aku derita. Aku takut akan hal itu.

Tapi ini bagaimana, sejam lamanya aku telah menunggu. Dari jadwal datangnya pesawatmu. Dan masih aku tak menemukan batang hidungmu. Dag dig dug, tak sabar aku menunggu. Sabar ya, begitu kata petugas bandara. Tak tahu apa mereka kalau aku ini sedang gulana. Aku gundah. Aku resah. Aku galau. Aku risau. Aku pusing, tujuh keliling. Memikirkanmu. Di mana kamu kekasihku.

Dua jam lamanya aku di sini menunggu. Dari jadwal datangnya pesawatmu. Tapi tak kunjung jua aku temukan wajah manismu. Ah, aku semakin gundah. Aku bertambah resah. Galauku meningkat. Risauku merapat. Kini aku tak hanya pusing. Aku sudah migraine. Di manakah dirimu sayangku.

Aku mulai berkeringat. Saat papan jadwal menyebutkan pesawatmu tak kunjung berangkat. Mondar mandir ke sana ke mari. Aku sudah seperti anak ayam kehilangan induknya. Aku bingung tiada tara. Aku takut kehilanganmu. Tuhan, tolong aku!

Aku sudah tak ingat apa yang telah aku perbuat. Aku tersadar di ruang medis bandara. Masih tidak ada kamu di sana. Orang-orang ini siapa? Asing semua. Istirahat dulu saja, tadi anda pingsan. Ucap salah satunya. Aku tak terlalu mendengar kalimat berikutnya yang keluar dari gadis manis itu. Aku sibuk mencarimu.

“Dorr!!”

Suara itu mengagetkanku. Suara kamu. Aku girang bukan kepalang. Segera aku melompat. Memelukmu kencang dan erat. Aku susur bibirmu dengan bibirku. Aku sudah tak peduli lagi di mana ini. Rinduku sudah tak mau di ajak menunggu.

“Eits… gak pake nangis.”

Aku tahan air mataku namun aku tak mampu. Aku terlalu lama menunggu menanggung rindu. Padahal baru tiga bulan katamu. Ternyata jika kita merindu, waktu berjalan begitu lambat. Aku tidak kuat. Peluk aku erat, Beib… jangan kau lepas.

Kulihat petugas medis bandara bergidik risih melihatku memelukmu. Seperti baru pertama kali bertemu dengan manusia seperti kita. Tapi apa peduliku. Aku sudah terlalu lama menunggu menanggung rindu. Rindu kepadamu. Yang kini telah lengkapi masa indahku bersamamu. Tepat setahun sejak pertama kita bertemu. Terima kasih untuk memberi  tiga ratus enam puluh lima hari terindah sepanjang hidupku, kekasihku. Aku cinta kamu. Peluk aku erat, Beib… jangan kau lepas.


sketch belong to s0ftit

Rabu, 20 Maret 2013

#BermainApi #04

DISAMBAR PETIR

                Muryati gundah tiada henti ketika di luar hujan semakin deras tertumpah. Hatinya cemas bukan kepalang mendapati jam dinding telah menunjukkan pukul lima sore lebih. Dia mondar-mandir gelisah di dalam gubuk reyotnya yang atapnya bocor di mana-mana.
                Kembali dia menatap ke luar jendela dan kembali nanar melihat hujan yang semakin deras mengamuk. Langit semakin gelap menghitam. Masih tak didapatinya sosok yang ia tunggu. Kemana gerangan Susanti, bocah ayu anak semata wayangnya.
                Hari ini Minggu. Susanti libur sekolah. Seperti biasa, di kala hari Minggu atau hari-hari libur lainnya tiba, Susanti selalu membantu Muryati, ibunya yang janda untuk berjualan gorengan. Apalagi sore ini akan ada pertandingan sepak bola antar kampung di lapangan desa. Susanti semakin bersemangat untuk membantu ibunya yang janda.
                Dengan senyum tersungging di bibir kecilnya, Susanti berjalan sambil berdendang membawa dagangan gorengan ke lapangan. Hatinya berbunga-bunga secerah mentari yang bersinar terang hari ini. Ia yakin dagangannya akan laris manis.
                Benar. Gorengan Susanti telah berubah menjadi lembaran-lembaran rupiah di genggamannya bahkan sebelum sepak bola antar kampung ini usai. Ia senang bukan kepalang. Dengan gembira segera ia berlari kembali ke rumahnya untuk segera menyampaikan kabar gembira ini kepada ibunya yang janda.
                Namun, baru beberapa meter ia berlari. Awan hitam datang bergulung-gulung menutup langit dan serta merta menumpahkan hujan yang maha dahsyat derasnya. Susanti berteduh di bawah pohon yang rindang.
                Sementara di rumah Muryati semakin gelisah. Jantungnya berdetak semakin kencang ketika suara halilintar bergemuruh, berlomba-lomba memekak memecah derap turunnya air hujan. Pikirannya semakin kacau. Kemana Susanti?
                Tiba-tiba, dari kejauhan tampak sesosok wanita mendekat ke arah rumahnya. Wanita itu berteriak kencang memanggil namanya. Suaranya beradu nyaring dengan deras hujan yang turun.
                “Mak Mur! Mbak Mur!”
                “Ada apa Sum? Kenapa kamu berteriak-teriak?” angsur Muryati ketika wanita itu telah samapi di gubuknya.
                “Anakmu mbak. Anakmu!” ucap Sum dengan histeris.
                “Kenapa dengan anakku? Kenapa dengan Susanti?” Muryati mulai menangis. Ia takut apa yang dipikirkannya terjadi.
                Segera Muryati bersama Sum bergegas membelah hujan untuk menuju ke tempat Susanti dikatakan berada. Muryati tak lagi menghiraukan derasnya air langit yang tumpah ini. Pikirannya hanya tertuju pada anaknya. Susanti.
                “Susanti!!” pekik Muryati ketika melihat tubuh anaknya telah gosong kaku tertutup daun pisang. Meraung-raung ia menangis. Suara tangisannya mampu mengalahkan gempita suara air hujan yang masih saja deras mengguyur bumi. Beberapa tetangga mencoba menenangkannya. Namun, Muryati malah menjadi. Ia menangis seraya tubuhnya berguling mengejang-kejang di tanah yang basah bercampur lumpur.
Kali ini tetangga-tetangganya mematung. Seolah tak kuasa bergerak melihat perempuan paruh baya itu menggelepar kejang-kejang di tanah sambil terus meneriakkan nama anaknya. Susanti. Kali ini tetangganya hanya mampu menemaninya dengan ikut berlinang airmata.
Entah apa yang Tuhan tulis untuk Muryati. Suami dan anak semata wayangnya di jemput malaikat maut berkendara petir. Tetapi Tuhan maha rencana. Pun, pengasih lagi penyayang. Muryati janda kini sebatang kara. Ditengah hujan ia merana. 

Sketch belong to laudatortemporisacti

Minggu, 10 Maret 2013

#BermainApi #03


MENGANTAR MAYA

                Perih terasa setiap kuulang adegan ini. Babak hidupku yang  selalu mengulang. Rutinitas menyakitkan yang selalu terampil mengiris hati ini tipis-tipis. Pedih.
                Kulihat dirinya perlahan menghias wajahnya dengan rona-rona. Menyapukan tipis kuas bulat menggembung itu ke muka pipinya. Lantas melaburkan gincu merah kepada bibirnya. Sebenarnya kamu tak perlu menambahkan ini itu. Kamu sudah cantik apa adanya di dalam mataku.
                Aku masih duduk terdiam memandang wajahnya yang perlahan berubah. Tertutup hias dunia yang kurasa malah menutup kecantikan abadinya. Dia masih saja mematut diri di depan cermin berbingkai kayu jati berwarna coklat itu. Seperti tak menghiraukankku.
                Entah berapa lama lagi aku harus menunggu. Menunggu dirinya untuk menjadi milikku. Menunggu waktu bersuci memeluk diriku. Mengembalikanku ke jalan yang benar, bersamanya.
                “Pram!”
                Aku tergagap dengan reflek kaki menginjak pedal rem dalam-dalam. Di depanku sudah berdiri sebuah gardu listrik dengan sombongnya. Jantungku berdegup sangat kencang. Lalu, kurasakan sebuah benda menghantam badanku.
                “Kamu mau bunuh diri ya?!” bentaknya seraya menarik tasnya dari badanku.
                “Maaf May.”
                “Maaf! Maaf!, kalau sampai nabrak kita bisa mati tahu!” hardiknya.
                “Maaf tuan putri, aku sedang kurang enak badan ini.”
                “Kalau nyetir jangan melamun dong. Lagian, kamu ngelamunin apa sih?”
                Aku menggeleng. Dia masih tampak kesal.  
                Kembali kulajukan mobil ini ke tempat tujuan. Kepalaku serasa pecah. Mengapa aku kembali melakukan ini.
                Maya segera turun begitu mobil ini berhenti.
                “Ingat ya Pram, hubungan kita hanya sebatas artis dan manager. Tidak lebih. Jangan hanya karena aku mau bercinta denganmu lalu otomatis aku menjadi pacar kamu. Lagi pula kamu kan yang membawaku ke tempat seperti ini. Terima sajalah kalau kamu itu masih seorang mucikari. Jadi tidak usah sok suci.”
                Kulihat mata gadis itu berkaca-kaca. Ada perih yang tampak jelas tergambar di matanya. Perih yang aku sebabkan. Luka yang aku buat ketika pertama kali aku memperkenalkan duniaku kepadanya.
                Dari jauh, kulihat Maya telah duduk di depan pelanggannya. Seorang pria paruh baya yang menjadi langganan Maya. Aku yang memperkenalkan dia kepadanya. Perkenalan yang membuatku menyesal hingga kini.
                Tuhan, bisakah aku berhenti?

sketch belong to : leadhead60

Rabu, 16 Januari 2013

#13HariNgeblogFF #Part2 #04


CUTI SAKIT HATI
Bosan ah makan hati mulu. Aku capek. Aku lelah membenci. Aku ingin berhenti membenci barang sehari. Bisa?
Seperti biasa hari ini aku menyiapkan keperluannya berangkat bekerja. Sarapan pagi yang menggugah selera, kemeja dasi yang tersusun rapi, tas kantornya yang sudah rapat terkunci. Apalagi? Tinggal menunggunya keluar dari kamar mandi. Lama sekali.
Sudah tujuh bulanan ini suamiku begitu. Berlama-lama ketika mandi, ngapain aja aku tak tahu. Dulu. Sekarang aku sudah tahu jawabnya. Ternyata dia punya kebiasaan asyik bertelpon ria. Telpon perempuan.
Sakit hatiku saat tahu dia selingkuh. Apalagi perempuan itu tak lebih cantik dariku. Memendam luka terasa sesak di dada. Perih mengiris tiap sudut jiwaku. Setiap hari, setiap jam, menit, detik tujuh bulan terakhirku laksana silet yang rajin menguliti kulitku lembar perlembar. Perih.
Perih ketika dia berdusta setiap waktu. Supaya bisa bertemu dengan si perempuan penggangu. Pernah suatu kali aku ikuti kemana ia pergi. Katanya meeting. Meeting kepalamu! Lekat dalam ingatanku waktu itu. Sebuah kalung emas mewah menjuntai indah keluar dari saku jasnya. Berpindah dengan manisnya ke sebuah leher yang jika boleh aku dengan senang hati akan menggoroknya. Perih.
Lalu suatu kali, ia ijin keluar kota. Cukup lama. Semingguan. Katanya urusan pekerjaan. Bah! Sakit hatiku. Sakit. Tujuh bulan lamanya luka ini menganga dan entah kapan akan tersembuhkan.
“Sudah selesai mas mandinya. Aku tunggu di meja makan.”
Suamiku yang tampan keluar kamar dengan gagahnya. Ah, andai dia tak menyakiti hatiku, aku ingin bahagia bersamanya selamanya. Tapi, mungkin kenyataan tak seindah impian. Sudah tujuh bulanan hatiku perih tak tertahankan. Aku duduk di depannya melihatnya makan. Air mataku mulai berlinang.
“Loh, sayang kenapa nangis?!”
Ia menghampiriku.
“Aku ingin cuti mas.”
“Cuti apa? Kamu kan tidak bekerja.”
“Aku ingin cuti dari sakit hati.”
Suamiku tertawa mendengar jawabanku. Ini mungkin menjadi tawa terakhirnya. Perlahan tawa itu berubah menjadi kejang. Ia merintih dan mengaduh tanpa henti. Ia menggelepar bagai cacing kepanasan. Mulutnya mengeluarkan busa. Darah menyusul setelahnya.



sketch belong to 123rf


Senin, 19 November 2012

TULIS NUSANTARA


RAGAM CERITA di Workshop TULIS NUSANTARA (SURABAYA)

Bangga di Acara Workshop #TulisNusantara
Sebagai seorang penghobi ilmu penulisan, saya tidak akan pernah melewatkan Workshop Menulis (apalagi gratis) di Surabaya. Jika waktunya pas dan tidak bentrok dengan jadwal saya (saya juga orang yang sibuk, itu perlu kamu tahu.. hahahaha *dikeplak) maka saya akan daftar dan datang. Yup, daftar dan datang, jika sekiranya tidak bisa datang, saya tidak akan daftar :))
Bangga bersama Mas Iwan Setiawan
Nah, seperti pada hari Minggu kemarin, 18 November 2012  jam 9 pagi saya datang ke ke @MatchboxToo Cafe and Resto yang berada di jalan Jawa 33 Surabaya untuk ikut Workshop #TulisNusantara yang di gelar atas kerjasama dari Nulisbuku.com, Plotpoint serta Ditjen EKMDI Kemenparekraft Indonesia (Wow..ini berarti resmi lho, di restui negara gitu). Acaranya seru abiesss. Sudah gratis, pemateri adalah editor kondang nya Plotpoint yaitu Arief Ash Shiddiq @alienstartrek . Yang belum apa-apa udah “keras” kepada kita-kita peserta yang masih ijo di dunia tulis menulis ini. Juara dah. Plus... ada mas Iwan “Ibuk” Setiawan @Iwan9S10A yang datang sebagai pembicara. Mas Iwan berbagi pengalaman hidupnya yang f*ck d*mn good. A wonderfull life. Sialan!! Aku jadi iri. Sekaligus termotivasi tentunya. Thank you masku (sok akrab) :p
Ikut yang ini ya ^^
Selain mendapat ilmu cuma-cuma dari pemateri dan pembicara, kita juga dapat info bahwa ada KOMPETISI MENULIS NUSANTARA yang hadiahnya ... D*mn!! SERATUS DUA BELAS SETENGAH JUTA RUPIAH. Yes! *ambilnapas* Seratus dua belas setengah juta rupiah. (uang semua tuh) mihihihi... yang seketika membuat kita langsung terpacu buat ikutan lomba. (Tapi ingat yes, saingannya berat. Se indonesia. Apalagi saya ikut. Para selebtweet ikut. Para senior writer ikut juga. Hahahahahahahhaha... Nah Lo)
Pokoknya buat teman-teman yang hobi nulis, suka nulis, pengen jadi penulis,  semuanya saja yuk ikutan KOMPETISI MENULIS NUSANTARA ini. Info lengkap klik di sini >> #TulisNusantara
         Terima kasih buat semua yang ada di Workshop #TulisNusantara kemarin, pemateri dari @_PlotPoint, Mas Iwan sebagai pembicara , panitia @nulisbuku, teman-teman yang datang, semuanya... obrigado, eu amo todos voces. Ate a proxima.

Jumat, 16 November 2012

Cerita Buku 50 RIBU


Buku 50 Ribu 

Akhirnya. Ya, akhirnya apa yg saya bayangkan setahun lalu terwujud minggu ini. Setelah setahun lalu saya dan kelima teman alumnus kelas kreatif Surabaya; Nabil @nabilabudayana , Kyra @riezkylibra80 , Risty @Riersy , Ayunin @AyuninQ dan Indah @indihana_ berhasil dengan Buku kolaborasi #91011 , sekarang kami kembali hadir dengan #Buku50Ribu 
#Buku50Ribu adalah kumpulan cerpen yang ditulis berurutan di setiap cerita oleh tiap-tiap penulis hingga rampung menjadi satu karya utuh. Pada awal permainan, saya sedikit meragukan apakah ini akan berhasil, menyatukan enam kepala dalam satu karya. Blend. Bercampur. Dari masing-masing genre kami yang berbeda. Tapi pada perjalanannya ternyata sungguh mengasyikkan. Hingga, tanpa kami sangka, hasilnya pun cukup mengejutkan. Jujur saya shock. Ekspektasi awal cerita saya yang bagus dirusak di tengah-tengah, dihancurkan pada akhiran dan harus saya perbaiki untuk selesai. Amazing!
#Buku50Ribu sangat spesial karena di tengah kesibukan dari masing-masing kami buku ini bisa selesai. Ya, tanggal 10 bulan 11 tahun 2012 (cantik ya tanggal nya) sekaligus urutan dari 9-10-11, #Buku50Ribu ini kami launching. Dengan sangat sederhana, namun amat berkesan.
Oleh karenanya terima kasih yang tak terhingga untuk semua yang membantu #Buku50Ribu lahir dengan selamat. Terima kasih untuk kakak-kakak endorser @Oddie__  Frente, Valiant Budi @vabyo, dan Novita @LVCBV Poerwanto, terimakasih selalu menyemangati. Terimakasih untuk Nulis Buku Club @nulisbuku dan Nulis Buku Club Surabaya @NBCSurabaya, MamaNa @ninaniena, Mbak Lala @lalapurwono, terima kasih untuk membuka jalan. Terimakasih mbak Ollie @salsabeela, sepatu boot nya inspirasi saya. Terimakasih untuk Grancity Surabaya @GrandCitySBY yang sudah ngijinin saya pake Foodloft nya, Mbak Nancy dan Mas Rendra @mdgila Bachtiar, thank you so much. Dan, last but not least, untuk semua yang datang di launching #Buku50Ribu kemarin serta yang telah mengapresiasi buku saya, saya ucap banyak-banyak terima kasih.
Mungkin itu secuil cerita saya tentang buku baruku. Dan kini terimalah …. #Buku50Ribu untukmu. Eu amo voce, realmente amos (^^,)>


Thanks yang sudah hadir


Buku 50 Ribu





Jumat, 26 Oktober 2012

#15HariNgeblogFFDadakan #D10


CUKUP DOA SECUKUPNYA

Aku terdiam. Mendengar ceritanya kata perkata. Meski aku tidak setuju dengan apa yang dia ucapkan namun apa boleh buat. Aku hanya seorang anak yang harus mematuhi ibunya. Emm… ibu tiri tepatnya. Meski sebenarnya dia masih sedarah denganku. Dia kakak ibuku.
Tetapi kali ini permintaannya keterlaluan. Mana bisa aku membunuh suamiku sendiri. Dasar PKI. Iblis. Hanya karena iming-iming cukong busuk makelar tanah itu aku harus membunuh suamiku. Begitu. Perempuan gila. 
Gusti jagat dewa batara, apa yang harus aku lakukan. Bagaimana aku bisa memilih jika pilihannya adalah suami dan anakku. Aku tak mungkin mampu hidup tanpa keduanya.
“Bagaimana, Nduk? Kamu bisa kan melakukan ini. Demi keluarga. Demi trah keluarga kita. Atau, terpaksa aku membunuh anakmu sebagai gantinya.”
Aku masih terdiam. Suara gagak yang bertengger di gerbang pura merongok-rongok menambah pilu hatiku. Adakah pilihan lain, Gusti. Mengapa aku terlahir dalam keluarga seperti ini. Lebih baik aku mati. Atau… dia yang mati.
Aku kembali melihat belati perak yang sudah kugenggam sedari tadi. Kulihat ibuku kembali menebar kemenyan di atas pedupaan membuat aroma wangi menyeruak bergolak. Gusti, jika benar aku membunuhnya, apakah aku menjadi anak durhaka. Tetapi ini demi keluargaku bukan. Aku harus melindungi suami dan anak-anakku.
“Apa yang kamu pikirkan lagi? Apakah kamu tidak mencintai keluargamu?!”
“Tapi, Bu. Apakah tidak bisa diganti dengan orang lain?”
“Tidak bisa!”
Baiklah jika begitu, aku memang harus membunuhmu. Maaf ibu.
Akkgg…...
“Anak bodoh! Bodoh kamu, Andini! Bodoh kamu!!”
Dia meludahiku entah berapa kali. Aku menutup mata.
Kejadiannya begitu cepat. Semoga anak-anakku nanti selamat. Suamiku harap kamu berhati-hati. Sekarang kamu sendiri karena aku harus pergi.
Kurasakan belati itu ditarik dari jantungku. Perempuan laknat itu kembali meludahiku. Aku sudah tidak peduli dengan diriku. Aku hanya mengkhawatirkan keluargaku. Nak, besok jangan pernah menangisi mayat atapun kuburanku. Cukup beri ibu doa secukupnya. Mungkin besok ibu akan berbahagia dengan Sang Kuasa.
Samar kulihat ibuku berlalu meninggalkanku. Perempuan biadab, suatu hari belati itu pula yang akan merenggut nyawamu. Ucapku lirih, sesaat sebelum napas benar-benar terhenti. Kudengar gagag-gagak kembali merongok. Semakin keras.

Painting belong to Margaret Bowland

Kamis, 25 Oktober 2012

#15HariNgeblogFFDadakan #D9


DAHLIA

“Kami sudah mau tutup, Non.”

Sapa penjaga toko bunga ini ketika aku baru akan memilih bunga-bunga dagangannya. Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya. Sepertinya dia tidak sadar bahwa maut telah mengintainya. Dia belum tahu siapa aku sebenarnya.
“Mana temanmu yang satu lagi?”
“Oh, dia kakakku. Pemilik toko bunga ini. Dia sudah pulang duluan. Ada apa ya, Non?”
“Oh tidak ada apa-apa kok.”
“Kita sekarang tutup lebih awal. Sejak G tiga puluh S kemarin, toko kami menjadi sepi. Kami maklum sih, banyak orang-orang yang takut keluar rumah. Apalagi banyak jemputan-jemputan misterius itu. Banyak yang dieksekusi dengan tuduhan terlibat gerakan palu arit itu.”
Urainya panjang lebar. Aku pura-pura saja menyimaknya.
Ndak laki-laki, ndak perempuan pokoknya yang di jemput pasti mati. Atau malah ada yang dibunuh di tempat. Di rumah mereka sendiri. Ngeri banget. Negara macam apa ini. Pemimpinnya kok malah menyebar teror.”
Lanjutnya kemudian. Aku masih memasang senyum dan masih berpura-pura untuk tertarik dengan ceritanya. Aku terus mengamatinya yang sedang berkemas-kemas sembari melihat kondisi luar toko untuk memastikan bahwa tidak akan ada seorangpun yang melihat ketika aku mengeksekusinya.
Sebetulnya jika dilihat lama-lama, pemuda ini tampak begitu manis. Lebih tampan dari sang kakak. Rahangnya yang keras membuat kelelakiannya menjadi jauh mempesona. Namun sayang sekali napasnya harus berhenti pada malam ini. Aku hanya melaksanakan tugas. Apa boleh buat.
Kulihat-lihat lagi belati-belatiku yang mengkilat-kilat mengintip dari dalam tas tanganku. Sabar ya sayang.
Dheng…
Jam lemari antik yang berdiri tegak di sudut toko ini berdentang sembilan kali. Kondisi benar-benar sepi. Mungkin sekarang adalah saat yang tepat untuk membuatnya mati. Kugenggam kuat-kuat belatiku. Aku mengambil posisi yang tepat untuk membunuhnya. Ini tidak main-main. Aku harus melaksanakannya dengan rapi. Satu tikaman dan dia harus mati.
Dan…
Tiba-tiba…
Kudengar derap kaki bergerak cepat mendekat. Aku langsung beringsut refleks sembunyi di balik vas-vas kosong ini. Aku dengar suara pemuda itu meronta.
“Benar ‘kan, Ndan. Ini Dahlia lima belas?”
“Benar, ciri-cirinya juga sama.”
“Kita bawa je markas atau…”
“Sudah lakukan saja di sini.”
Crass…
Ada sesuatu menggelinding yang tertangkap oleh mataku. Lalu kulihat seseorang tinggi tegap itu memungutnya. Benda itu menetes-neteskan darah. Aku hanya terdiam dan mengambil napas dalam-dalam. Huft… aku terlambat. Ternyata dia juga menjadi target jemputan rupanya. Tahu begitu aku akan menyudahinya kemarin lusa.
Gerombolan itu telah pergi. Meninggalkan toko bunga ini bersama sepi. Aku melangkah keluar. Jalan Dahlia ini telah benar-benar jauh dari bingar. Apa boleh buat.

Drawing belong to Ten Paces And Draw

Rabu, 24 Oktober 2012

#15HariNgeblogFFDadakan #D8


MEMILIH PUTIH

Entah sejak kapan aku suka dengan semua yang berwarna putih. Salah. Aku tidak lagi suka. Aku lebih dari itu. Aku terobsesi. Aku tergila-gila dengan semua yang berwarna putih. Bahkan, aku rela membayar mahal dokter cabul yang berpraktek di ujung gang agar gigiku putih mengkilat. Lalu aku tak segan untuk setiap hari cerewet kepada pembantu-pembantuku agar semua benda-benda putihku tetaplah bersih, terbebas dari debu.
Lain diriku lain pula kakak perempuanku. Kakak semata wayangku ini menyukai warna ungu. Warna yang menurutku sendu, kuyu, tanpa semangat. Hanya muram dan kesedihan yang menaunginya. Aku tidak suka. Sama tidak sukaku kepada kakakku. Apalagi nenekku lebih sayang kepada kakakku. Namun apa boleh buat. Tradisi masih mengikat agar yang muda lebih hormat kepada yang lebih tua. Harus nurut, patuh dan tidak melawan. Sebagai anak yang sopan, semua aku laksanakan.
Suatu hari, kami berdua di panggil nenek ke ruang tengah. Adakah gerangan serius yang membuat nenek memanggil kami di tengah butanya pagi. Mata kami mengerjap-kerjap melawan kantuk. Gigi bergemerutuk menahan dingin pagi. Badanpun menggigil.
Nenek sudah duduk manis di kursi malasnya menunggu datangnya kami berdua. Kami duduk di depan nenek dengan masih memaksa mata untuk membuka. Sesekali dua kali aku menguap. Nenek cerita panjang lebar dan aku tidak bisa begitu serius mendengar. Aku masih ngantuk.
Hingga, nenek mengeluarkan sebuah kotak kayu besar dan membukanya. Mataku langsung membelalak melihat kilatan benda putih yang langsung memikat hatiku. Tiga buah belati perak ini seperti tersenyum kepadaku. Aku langsung jatuh cinta. Tak tahan aku ingin menjamahnya.
“Tunggu sebentar, hati-hati dengan benda ini. Benda-benda inilah yang bisa membunuh kalian.” Ucap nenekku.
“Maksud nenek?” Kakakku antusias bertanya.
“Tiga belati Brutus dan sebuah keris Kencana Wungu ini jangan sampai jatuh ke tangan orang lain. Kalian putri-putri Madangkara yang tercipta abadi akan mati jika tergores benda-benda sakti ini.” Urai nenek panjang lebar.
Lalu meminta kami untuk memilih. Jelas aku memilih belati-belati itu. Warna putih peraknya yang mengkilat langsung menawan hatiku. Kakakpun suka dengan pusaka kerisnya. Bilah keris bertahta batu-batu kecubung ungu itu begitu memukau matanya.
“Nenek, boleh aku bertanya? Darimana asal belati-belati ini?”
“Kamu tidak perlu tahu. Yang pasti, jangan sampai terluka oleh benda-benda pusaka itu. Karena hanya benda-benda inilah yang bisa melukai kita, keturunan Madangkara.”
Kami berdua manggut-manggut.
“Kenapa tidak kita musnahkan saja benda-benda ini, Nek?” kata kakakku.
“Susah, untuk memusnahkan kesaktiannya benda-benda ini minta tumbal. Darah dan nyawa lelaki Pengging.”
“Ya kita cari, Nek.” Ucapku.
“Tidak segampang itu. Apalagi benda-benda ini akan bertambah sakti jika berhasil membunuh trah kita. Akan semakin sulit untuk di musnahkan. Namun yang pasti, selain mengancam nyawa kita, benda-benda ini juga sangat berguna. Karena pusaka-pusaka ini membuat pemiliknya bertambah kuat dan hebat.”
“Begitu ya, Nek.”
Aku berdiri dan bermain-main dengan belati perak ini. Aku mengayun-ayunkannya. Dan,...
Jleb!
Belati itu menancap tepat di jantung nenekku. Nenek mati seketika tanpa berucap sepatah katapun. Aku tersenyum. Kakakku diam terkagetkan.
Kini, kekuatan nenek telah di serap belati ini. Dan belati ini telah menjadi milikku. Aku pasti bertambah sakti sekarang.

Painting belong to Whidbey Island Sketchers

Selasa, 23 Oktober 2012

#15HariNgeblogFFDadakan #D7


TATAP MATA EKSEKUTIF MUDA

Bahagia itu sederhana. Bagiku, menyelesaikan pekerjaan dengan baik lalu pulang tanpa ada pekerjaan yang tertinggal, kemudian suasana taman kota yang tak begitu ramai dengan segelas teh panas kedai kopi depan kantor yang ada di genggamanku saja sudah cukup membuatku bahagia.
Dan, ketika kudapati seorang pria tampan, tinggi tegap yang seminggu terakhir ini selalu terlihat ada di taman tempatku biasa melepas lelah seusai ngantor, bahagia itu bertambah rasanya. Entah apa yang aku rasakan. Aku juga tak begitu mengerti Apa yang sedang terjadi padaku. Aku tak tahu pasti.
Dan, ketika dua hari ini tak lagi kudapati pria itu duduk di kursi taman tempat ia biasa berada, hatiku mulai resah. Aku gelisah melihat ke kanan ke kiri. Tapi tetap tidak aku dapati sosok si pria tinggi tegap itu. Duh.
Dan, ini sudah hampir seminggu aku tak melihat pria itu. Kenapa hatiku menjadi gusar. Aku yakin sekali pria itulah orangnya. Kemana dia.
“Hey!”
Seseorang menepuk punggungku dari belakang.
“Masih menunggunya ya. Tidak usah menunggunya lagi. Dia sudah mati.”
“Maksud mbak?”
“Iya dia sudah mati. Aku membunuhnya. Lagipula bukan dia orang yang kita cari.”
“Masa sih? Padahal aku yakin sekali dialah orangnya. Sorot matanya yang seperti elang itu yang membuatku yakin.”
“Tapi kenyataannya bukan. Belati ini tetap utuh saat darahnya menyatu di badan belati sialan ini.”
“Susah juga ternyata ya mbak. Mencari orang keturunan Mas Karebet.”
“Betul dik, dan kita harus cepat menemukannya. Sebelum waktunya habis. Belati ini harus kita musnahkan supaya tidak ada lagi yang bisa melukai atau membunuh kita.”
“Iya mbak. Lalu kemana lagi kita harus mencari pria keturunan Karebet itu? Instingmu masih berkata dia ada di sini?”
“Ya. Itu ada pria tampan satu lagi. Siapa tahu eksekutif muda itu yang kita cari.”
“Baiklah.”
Aku mulai membaca mantra. 

Painting belomg to mikisportraits

Senin, 22 Oktober 2012

#15HariNgeblogFFDadakan #D6

SEKARANG ATAU 19 TAHUN LAGI
Kota tua ini masih tetap sama untukku. Begitu tenang dan mendamaikan. Aku tak peduli lagi dengan apa yang menjadi kewajibanku. Aku sudah lelah sebenarnya. Selalu saja harus mematuhi perintahnya. Kodrat yang harus aku lakukan sepanjang hidupku. Yang entah kapan akan berhenti.
Kulihat dari jauh, tampak pemuda itu telah duduk manis di kursi taman tempat kami terbiasa bertemu di sini. Ia juga masih sama bagiku. Begitu tenang dan mendamaikan.
“Hai, apa kabar.” Tanyanya malu-malu.
“Baik.” Aku menjawab singkat.
Dasar anak manusia, tampak malu hanya pada awalnya. Namun setelahnya begitu terlihat bersemangat. Namun, aku padamu begitu memuja. Entah apakah ini yang disebut cinta. Aku begitu hanyut kepadamu. Suara merdumu menggetarkan hatiku. Tak pernah aku merasakan sebelumnya. Apakah benar ini yang disebut cinta.
Dingin malam kota tua ini seolah merestui pendar-pendar sejuk hawa cinta yang keluar. Kamu merapatkan tubuhmu kepadaku. Aku tak bergerak. Pun ketika bibirmu menyentuh bibirku. Aku tak bergerak. Entah apa yang terjadi. Aku merasakan nikmat begitu hebat.
Penguasa langit, begitu sempurnakah Kamu menciptakan seorang manusia. Mengapa ia tercipta begini hebatnya. Sanggup memberiku gambaran arti sebuah cinta.
Aku bertanya kepada langit, namun suara itu yang menjawab.
Aku katakan tidak. Tidak. Tidak akan.
Malam begitu cepat merayap. Pemuda ini memintaku untuk pulang ke rumah. Tak baik katanya, seorang perawan malam-malam masih kelayapan. Oh, begitu sopannya dia. Membuatku semakin jatuh cinta. Dia pamit dan pergi setelah berjanji akan bertemu lagi. Di sini. Di kursi taman kota tua ini.
“Rara, kenapa kamu tidak membunuhnya sekarang?”
Suara itu kembali mengiang. Aku tidak bisa, jawabku.
“Apakah kamu ingin menunggu sembilan belas tahun lagi, Purnama Karebet ini tidak terjadi setiap tahun. Dasar anak bodoh, kejar dan bunuh dia.”
Aku tidak menjawabnya. Aku terus bernyanyi. Mana mungkin aku bisa membunuh orang yang aku cintai.
“Rara, hanya dia keturunan Pengging yang bisa kita temukan.”
Suara itu kembali terdengar. Aku tetap tidak peduli. Lagipula, harus ada alasan untuk aku bisa membunuhnya. Sementara dia adalah pemuda berbudi pekerti yang terpuji. Bagaimana bisa aku melakukannya. Aku kembali memasukkan belati tuaku ke sarungnya. Lalu berlalu bersama hembus dingan angin kota tua. Berharap bertemu dia sekali lagi. Di sini. Nanti.
 Painting belong to Richard Sheppard

#15HariNgeblogFFDadakan #D5

KENANGAN SELASA SORE
Selasa hari ini tetaplah sama. Yang membedakan hanyalah selasa kali ini berhujan terlalu deras. Bahkan berangin. Namun deru angin itu tidaklah mampu menutup teriakan-teriakan yang selama ini aku panggil ayah. Teriakannya kepada Ibu terlalu keras. Mungkin tetangga sebelah bisa mendengarnya.
Sudah sejam lebih Ayah membentak-bentak ibu. Entah apa yang mereka pertengkarkan. Aku tidak begitu jelas mendengar. Hanya teriakan dan teriakan ayah yang menggema. Masuk ke kamarku menyusup di antara celah-celah dinding kamar. Ketika tangis ibu pecah, aku beranikan mengintip dari lubang kursi apa yang sebenarnya telah terjadi di luar.
Ibu terlihat bersimpuh di lantai, sementara ayah masih berdiri tegak. Berkacak pinggang dan sesekali meludah ke arah ibu. Ibu hanya menangis. Sepertinya amarah ayah belumlah reda. Ia menarik ibu berdiri lalu membantingnya ke sofa dan menamparnya berkali-kali. Tak tahan, ku kerahkan semua keberanianku untuk keluar dan membantu ibu semampuku. Tapi ternyata aku terlalu kecil di banding ayah. Ketika aku mulai memukulinya, ia segera menghempaskanku hanya dengan satu tangannya. Aku terlempar jauh. Ibu berteriak sejadi-jadinya. Tampak ia seperti akan menghampiriku, namun ayah kembali menariknya. Dan lagi, menamparnya berkali-kali.
Aku sudah tak tahan lagi melihat ibuku yang tampak begitu tersiksa. Aku pergi ke gudang, mencari kotak antik itu dan mengambil isinya.
Dan…
“Akkhh…!!”
Ayah memekik. Lalu tersungkur tanpa sekalipun berkata lagi. Darah mulai meluber. Belati di tanganku jatuh menggerincing di lantai.
Ibuku hanya diam terpana. Lalu mulai menangis lagi.
“Apa yang telah kamu lakukan, Nak.” Ucapnya.
Aku hanya bisa terduduk lesu ketika pintu terbuka.
Adikku langsung menghambur ke mayat ayah. Tangisnya tak terhentikan.
Sore itu, rumahku bagaikan neraka. Teriakan dan tangisan saling beradu. Entah apakah tetangga sebelah mendengar. Hanya angin kencang dan hujan deras menderu ini yang tahu.
 Drawing belong to Deb Adams Art

Sabtu, 20 Oktober 2012

#15HariNgeblogFFDadakan #D4


BIYAN ATAU BIANCA

          “Ini saja, Misteri Pembunuhan Biyan dan Bianca.”
          “What?! Buku apa sih itu, Yang. Serem gitu. Siapa yang ngarang sih.”
          Pemuda itu tertawa mendengar reaksi dari kekasihnya.
“Ini kan cuma fiksi, Sayang.”
“Iya, fiksi. Tapi ‘kan serem. Kok bisa sih judulnya begitu. Nyebut-nyebut namaku dan Bianca.”
Pemuda itu kembali tertawa.
Sepasang muda-mudi itu terlihat asyik bercengkrama. Mereka tertawa-tawa tanpa menyadari bahwa dari sudut lorong rak buku sebelah mereka, dua pasang mata mengawasi.
“Jadi, siapa yang harus aku singkirkan, Mbak. Dia itu Biyan atau Bianca.”
“Aku tidak peduli, Dik. Yang pasti, setiap perempuan yang mencoba mendekati Raka harus mati. Hanya aku yang boleh memilikinya.”
“Iya aku ngerti. Tapi aku kan harus tahu. Siapa gadis itu. Biyan atau Bianca. Ah, wajah mereka terlalu mirip. Dasar kembar sialan.”
“Ah, sudahlah. Adik coba dulu saja.”
“Sekarang? Di sini? Di toko buku ini? Mbak becanda deh.”
“Ayolah, Dik. Coba saja. Aku ingin dia cepat mati.”
“Baiklah jika begitu keinginannmu, Mbak."
Kemudian, gadis yang dipanggil adik oleh gadis satunya itu mengeluarkan kertas. Melipat-lipatnya membentuk serupa manusia. Lalu matanya terpejam. Entah apa yang akan ia lakukan.
Sementara itu, di sudut lain toko buku ini, seorang pemuda dengan belati di tangannya juga sedang mengamati Raka dengan gadisnya. Sorot matanya tampak begitu membenci sepasang anak manusia itu.
“Pokoknya, Raka tidak boleh bahagia. Enak saja.” Gumam pemuda berbelati itu.
Dia terus mengawasi Raka dan gadisnya sambil berpura-pura memilih-milih buku yang tersusun rapi di rak-rak buku kayu itu.
Raka dan kekasihnya masih saja bercanda dan tertawa. Hingga di depan kasir, tiba-tiba hidung gadisnya mengeluarkan darah.
“Loh, sayang mimisan.”
Raka segera mengambil sapu tangannya dan berusaha membersihkan darah itu. Namun kemudian tubuh sang gadis kejang-kejang. Darah semakin deras mengalir dari hidungnya. Kemudian dari mulutnya. Toko buku itupun geger.
Dua pasang mata melihat kejadian itu dengan wajah sumringah. Satu diantaranya malah terlihat begitu menikmati. Mereka tersenyum kemudian meninggalkan toko buku itu dengan raut muka bahagia.
Sementara, Pemuda berbelati melihat kejadian itu dengan terheran-heran.
“Wow, ternyata Tuhan berpihak padaku. Baguslah.” Pemuda itupun tersenyum.
Toko buku semakin gaduh.

Sketch belong to Wayne B. Medina

Kamis, 18 Oktober 2012

#15HariNgeblogFFDadakan #D3


MENARI DI AKHIR FEBRUARI

Gerimis menari-nari di tengah terik hari kabisat ini. Seorang gadis cantik duduk manis di meja pinggir sebuah kafe. Matanya menerawang kosong menembus dinding kaca di depannya. Tampak sekali hatinya resah terlihat dari wajahnya yang gelisah.
Seorang pemuda turun dari sebuah taxi dan bergegas berlari ke dalam kafe. Matanya menyapu seluruh isi ruangan dan berhenti di meja pinggir dinding kaca. Tempat sang gadis duduk manis.
“Maaf aku terlambat. Hujan.”
Sang gadis tersenyum.
“Ada apa sayang, kamu kok menangis?”
Sang gadis menghela napas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan.
Pemuda itu menggeser kursinya merapat kepada sang gadis, kekasihnya.
“Kamu belum menjawab pertanyaanku.”
“Raka, aku minta putus. Kita sudahi hubungan ini.”
Sang pemuda terkejut.
“Putus? Maksud kamu apa?”
“Ya kita putus. Selesai.”
“Alasannya? Hubungan kita baik-baik saja bukan?”
“Justru itu, hubungan kita terlalu baik. Flat. Membosankan. Boring, Ka.”
Flat? Lantas hubungan seperti apa yang kamu inginkan, Ayu?”
“Aku ingin kita putus.”
“Aku tidak mau. Sampai kamu memberi alasan yang masuk akal.”
“Aku sudah bosan dengan kamu, Raka. Aku sudah tidak mencintai kamu lagi seperti saat pertama kita bertemu.” Suara Ayu, sang gadis itu mulai meninggi.
“Ok. Entah apa yang membuatmu bisa berkata seperti itu aku tidak tahu. Tapi yang pasti, kamu bukan seperti Ayu kekasihku. Sekarang aku akan pergi. Aku minta kamu menenangkan diri. Dan setelah pikiran kamu juernih, Ayu kekasihku telah kembali, kita bertemu lagi untuk membahas ini semua.” Ucap pemuda itu panjang lebar. Lalu beringsut meninggalkan sang gadis seorang diri.
Plokk…Plokk…Plokk…
Suara tepukan tangan yang di buat-buat terdengar mendekat ke arah meja gadis itu.
“Tidak terlalu bagus, tapi lumayanlah. Cukup menarik.” Ucap seorang pemuda yang perlahan duduk di depan sang gadis.
“Puas kamu sekarang?!” Sang gadis berkata penuh emosi, air matanya perlahan mengalir membasahi pipinya.
“Hei… Kamu tidak lupa, kan? Siapa yang memulai ini semua. Kamu yang menginginkan aku. Aku hanya menurutimu saja.” Sang pemuda berkata dengan nada mengejek.
“Kamu… Kamu memang senang menari di atas penderitaan orang lain.”
“Sudahlah. Aku sudah menemukan tempat aborsi yang aman. Aku akan mengantarmu malam ini.”
Sang gadis itu berdiri.
“Kamu memang jahat, Rayi.”
Sang gadis terisak dan meninggalkan pemuda itu dengan kesalnya. Sang pemuda tersenyum-senyum. Tampak wajahnya begitu bahagia. Dendamnya akan segera terbalas.
Sementara di luar, tarian gerimis telah berubah menjadi hujan. Hujan lebat di tengah terik hari kabisat.

Painting belong to inkpaintwords